Komnas HAM Marah, Minta Penyidik Tidak Berbohong Soal CCTV dalam Kasus Tewasnya Brigadir J

Komnas HAM
Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, meminta agar penyidik untuk tidak berbohong terkait persoalan CCTV dalam kasus tewasnya Brigadir Yosua.

Ketua Komnas HAM ini mengatakan untuk mengungkap kasus itu, selain bergantung kepada keterangan saksi-saksi, juga bergantung kepada CCTV sebagai barang bukti.

“Jadi ini semua tergantung pada CCTV dan saksinya. Saya katakan di awal kalau anda baca berita, nonton TV, sebenarnya saya marah, saya akan lapor ke presiden, itu ancaman bahasa saya untuk mengatakan, ‘hei kalian jangan bohong tentang CCTV!” ujar Taufan, Jumat (5/8/2022).

Ketua Komnas HAM ini juga mengatakan, pada hari Kamis (4/8) Kapolri telah mengambil sikap menindak 25 personel Polri. Walaupun mereka belum dipastikan bersalah, Taufan mengatakan langkah itu mengindikasikan adanya obstraction of justice.

“Tadi malam Anda lihat Kapolri mengambil sikap untuk dia kemudian menindak 25 orang itu walaupun belum dapat dikatakan pasti bersalah, tapi sampai ada yang dicopot dimasukkan kurungan internal mereka berarti kan indikasi kuat bahwa memang ada langkah-langkah yang dikatakan sebagai obstraction of justice begitu,” imbuhnya

Dalam kasus ini Bharada E atau Richard Eliezer telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri pada Rabu (3/8) malam. Penyidik juga langsung menahannya.

Ia dipersangkakan Pasal 338 Jo 55 dan 56 KUHP. Jika melihat pasal yang dikenakan, kemungkinan besar ada orang lain yang juga terlibat dalam kasus tewasnya Brigadir Yosua.

Artikel SebelumnyaKasus Kredit Macet Bank Banten Rugikan Negara Rp 65 Miliar
Artikel BerikutnyaViral Gus Samsudin Obati Pasien Pakai Bor, Netizen: Itu Alat Untuk Mekanik Bukan Dukun