Petani di Nyalindung Kab Sukabumi, Kebingungan Dengan Jumlah Kuota Pupuk Subsidi Yang Disediakan Kios Pupuk, Kartu Tani Seakan Tidak Berguna

Agen Pupuk
JABAR, banten.indeksnews.com-Sejumlah petani di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dibingungkan dengan kuota pupuk bersubsidi dengan menggunakan Kartu Tani (KT) tidak sesuai dengan jumlah berat dan jumlah yang sudah ditentukan pemerintah.

Padahal, pemerintah sudah memberikan kemudahan dan memberikan bantuan untuk para petani berupa Kartu Tani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi kepada para petani secara nasional. Akan tetapi, realita ditingkatkan distributor atau kios pupuk bersubsidi yang sudah ditunjuk pemerintah sebagai penyedia, dirasakan tidak sesuai apa yang di harapan para petani.

Dilansir dari Seputarjagat.com edisi 29 Juni 2021, adanya Kartu Tani yang diberikan lewat bantuan pemerintah untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, akan tetap realita di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, masih ditemukan keluhan para petani dan diselimuti brasa “Kebingungan Petani Mendapat Pupuk Bersubsidi”.

Seperti halnya, keluhan datang dari seorang petani yang namanya diinisialkan, sebut saja K petani asal Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, menuturkan dirinya tidak bisa menebus pupuk subsidi sesuai dengan kuota yang seharusnya seusia dalam Kartu Tani.

“Seperti pupuk urea 81 kilo gram (kg) hanya bisa diambil atau ditebus sebanyak 50 kg, pupuk jenis NPK 120 kg hanya bisa ditebus 100 kg, dan pupuk organik 54 kg hanya diberikan 50 kg. Terus yang kami pertanyakan sisa kuota yang ada atau yang seharusnya kemana?,” tanya K yang juga sebagai  Anggota Poktan Tani Mandiri, Desa Mekarsari.

Hal senada dialami oleh pemilik Kartu Tani berinisial A, dirinya mengaku hanya diberi pupuk NPK 50 kg senilai Rp 120.000, dari jumlah kuota yang seharusnya diterima sebanyak 75 kg. Lalu, sisa 25 kg tidak bisa dikeluarkan atau diserap.

“Pemilik Kios Pupuk menyarankan agar para petani harus mencari sisi kuotanya lebih dari 25 kg sendiri,” tutur A menirukan ucapan pemilik kios pupuk.

Keluhan petani pemegang Kartu Tani berinisial US merasakan hal yang serupa, dimana dirinya mendapat kuota pupuk 34 kg, tapi sewaktu akan menebus di Kios Pupuk Imam Tani di tolak atau tidak layani. Pemilik kios beralasannya karena kuota pupuk US kurang dari 50 kg.

“Kalau mau silahkan cari petani yang memiliki kelebihan kuota 16 kg untuk memenuhi pas kouta 50 kg kata pemilik kios pupuk (Imam Tani). Akhirnya saya terpaksa membeli pupuk non subsidi karena saya membutuhkan pupuk tersebut untuk garapan, percuma saja diberikan Kartu Tani, kalo seperti ini kenyataannya Kartu Tani ini tidak dapat digunakan,” kesal US yang mengaku sebagai Anggota Poktan.

Pemilik Kios Pupuk Imam Tani di Kecamatan Nyalindung, yang enggan disebutkan namanya dengan berdalih, apabila penebusan kuota pupuk subsidi yang kurang dari 50 kg, petani yang memiliki Kartu Tani tersebut harus mencari petani lainnya yang kelebihan bisa melengkapi jumlah pupuk pas di 50 kg.

“Kalau karung dibuka kami takut rugi, mengingat timbangan pupuk 1 zak atau satu karung beratnya 50 kg, terkadang kerap jumlah berat berkurang dari pabriknya. Saya tidak mau menangggung kerugian dan semua itu sudah ada kesepakatan dengan distributor Pupuk Kujang yang pusatnya di wilayah Garut,” ungkap pemilik kios Imam Tani.

Ia menambahkan, bahwa area pemasaran Kios Pupuk Imam Tani, Kecamatan Nyalindung, hanya bisa melayani Petani yang memiliki Kartu Tani di dua desa. Diantaranya Desa Mekarsari dan Desa Bojongsari. Selebihnya, bisa di Kios Pupuk milik (HZ) di Desa Cijangkar, dan Kios milik (HM) di Desa Nyalindung.

“Semua kios pupuk di desa wilayah Kecamatan Nyalindung melakukan hal yang sama, jadi bukan saya saja yang melakukan atau berbuat seperti itu (tidak memberikan kuota dibawah 50 kg),” kilahnya.

Petani
Foto Ilustrasi : Petani di Kecamatan Nyalindung, didampingi tim Seputarjagat.com, saat menyambangi Kepala Gudang Pupuk Kujang di Jalan Raya Cisaat, Kecamatan Cisaat, Bapak Arif.

Menanggapi kisruh yang dirasakan para petani pemenang Kartu Tani di sejumlah desa Kecamatan Nyalindung, Arif Kepala Gudang Pupuk Kujang di Jalan Raya Cisaat, Kecamatan Cisaat, berkomentar terkait keluhan para petani dengan aturan jumlah kuota yang dijadikan alasan para pemilik Kios Puput yang enggan mengeluarkan pupuk bersubsidi dibawah kuota 50 kg, Sebaliknya, yang semestinya mendapatkan 70 kg dibuat dilema dengan terpaksa mengambil 50 kg sesuai yang diberikan kios pupuk tersebut.

“Tidak mungkin ada kekurangan timbangan atau susut dalam setiap karungnya. Pupuk yang dikirim dari pabrik selanjutnya didistribusikan ke distributor atau kios pupuk didaerah selalu ditimbang ulang kembali. Untuk itu, tidak mungkin kalo ada yang mengatakan pupuk dari kami selalu berkurang,” kata Arif Kepala Gudang Pupuk Kujang, dilansir dari Seputarjagat.com, Minggu 11 Juli 2021.

Arif kembali menegaskan, berat pupuk dalam setiap karungnya 50 kg sesuai dari produsen atau pabriknya. Arif berasumsi, kemungkinan adanya kekurangan timbangan setiap karungnya sangat kecil sekali bahkan  tidak akan terjadi.

“Sangat diharamkan di gudang kami ada pengurangan timbangan. Selama ini tidak ada keluhan dari petani, karena dalam penyaluran berpedoman pada tepat waktu dan tepat jumlah. Untuk itu, kami menghimbau kepada para petani atau masyarakat yang mengetahui ada permasalahan dilapangan terkait kaluhan pupuk, secepatnya lapor dan saya akan konfirmasi kepada distributor atau kios yang ada daerah, begitu pun di Kecamatan Nyalindung,” tendas Arif, yang mengaku baru bertugas selama 2 hari, menggantikan Kepala Gudang sebelumnya H.Ani.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) RI :

Sementara Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementrian Pertanian, Sarwo Edhy menambahkan, data e-RDKK juga menjadi referensi bagi pembagian Kartu Tani yang akan digunakan untuk para petani pembayaran bantuan pupuk bersubsidi.

“Distributor dan kios adalah kunci keberhasilan penyaluran pupuk bersubsidi agar bisa sampai ketangan para petani dan bisa dirasakan manfaatnya, dalam hal ini petani yang berhak sesuai dengan mekanisme yang sudah diatur dalam undang-undang,” tegas Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy mengatakan, keberadaan kartu tani diharapkan berdampak positif bagi semua kalangan. Tidak hanya bagi pemerintah dan pihak terkait saja, melainkan yang paling penting adalah manfaat bagi para petani.

“Dengan adanya kartu tani, nantinya para petani dapat menggunakannya dalam membeli pupuk bersubsidi, langkah ini efektif dalam mengalirkan pupuk subsidi tepat sasaran,” ungkap Sarwo Edhy.

Persyaratan utama untuk mendapatkan kartu ini adalah petani harus tergabung dalam kelompok tani, kemudian petani mengumpulkan foto copy e-KTP dan tanda kepemilikan tanah, bukti setoran pajak tanah, bukti sewa, atau anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan ( LMDH ).

“Verifikasi data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sekarang diarahkan ke e-RDKK, kemudian Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) melakukan pendataan dan pengungkit data ke lapangan (NIK, Luas lahan, dan jenis pupuk) yang kemudian PPL mengunggah data petani ke dalam Sistem Informasi Pertanian Indonesia (SINPI),” jelas Sarwo Edhy.

Selanjutnya, tambah Sarwo Edhy, lakukan upload data RDKK atau upload alokasi pupuk bersubsidi, petani pun harus hadir di Bank yang ditunjuk yaitu Bank BRI, Mandiri unit desa atau tempat yang telah ditentukan agar kartu tani terbit. Dalam proses ini petani menunjukkan e-KTP asli dan menyebutkan nama ibu kandung, kemudian petugas melakukan pengecekan ke server bank melanjutkan pembuatan buku tabungan.

“Setelah proses selesai, petugas bank akan menyerahkan kartu tani dan buku tabungan. Kartu tani langsung bisa digunakan untuk pembelian pupuk subsidi, petani yang akan membeli pupuk subsidi tinggal membawa data kartu tani ke agen atau pengecer yang telah ditunjuk kemudian kartu tani digesek pada mesin EDC di kios untuk melakukan pembelian subsidi sesuai dengan kebutuhan,” jelasnya.

Dilanjutkannya, petani juga bisa mengecek alokasi sisa kuota pupuk. Setelah melakukan transaksi, selanjutnya menawarkan pupuk ke petani dan transaksi selesai petani dapat membawa pulang pupuk tersebut. Tidak hanya untuk membeli pupuk, kartu tani juga berfungsi sebagai kartu debet dan alat transaksi penjualan hasil panen.

“Selanjutnya hasil panen di input dan muncul nilai pembayaran di server SINPI, lalu SINPI mengirimkan laporan melalui sms ke HP Petani, di HP petani ada laporan jumlah panen dan nilai jualnya (rupiah). Nilai jual tersebut masuk ke rekening petani lalu dapat dicek saldo melalui ATM,” ujarnya.

Selain manfaat tersebut, katanya, kartu tani juga dapat digunakan para petani untuk mengajukan kredit usaha di lembaga perbankan dan keuangan yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Kartu tani digunakan untuk memverifikasi data para petani ketika melakukan pengajkuan kredit kredit usaha.

“Sedangkan untuk hambatan dalam pertanian adalah adanya petani yang belum memiliki rekening bank untuk menyimpan hasil panen mereka. Faktor lainnya adalah letak Bank yang cukup jauh dan terkendala mengenai persyaratan lainnya,” pungkas Sarwo.*(CR-2/Red)

Artikulli paraprakDisdik Kabupaten Sukabumi Himbau Lembaga PAUD Gunakan BOP 2021 Sesuai JUKNIS dan RKAS
Artikulli tjetërPPKM Darurat Diterapkan Hingga 20 Juli 2021, Hergun Desak Pemerintah Lanjutkan Program Program Bansos