PT MKP Gegerbitung Tak Kantongi IMB Viral 2019, Kembali Viral di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021

KAB.SUKABUMI,banten.indeksnews.com-Foto kondisi bangunan perusahaan kandang ayam yang diyakini milik PT Male Karya Prima (PT MKP) di Kampung Cipetir Bongas, Desa Sukamanah, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, viral diperbincangkan warga Netizen (warganet), di pertepatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2021.

Informasi yang dihimpun, perbincangan warganet lebih mengkritisi sisi dampak buruk kerusakan alam terkini, akibat keberadaan bangunan peternakan ayam (PT MKP) yang diperkirakan berdiri di lahan sekitar 30 hektare.

Mirisnya, sebagian lahan PT MKP diduga milik Perum Perhutani dan sempat menjadi sorotan publik pada Februari 2019, dari foto 3D yang diupload di akun media sosial milik Rewad, kerusakan telihat jelas adanya bangun kokoh ditengah lokasi yang jadi perbincangkan. beragam komentar dicetuskan warganet yang mempertanyakan sisi legalitas dan upaya pengawasan pemerintah yang terkesan adanya pembiaran.

“WARNING WARNING SOS SOS SOS. HULU SUNGAI CIMANDIRI DIRUSAK.
PERDA PROVINSI JABAR NO 22 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROV JABAR DITABRAK. PERDA KABUPATEN SUKABUMI NO 12 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA TUANG WILAYAH KAB. SUKABUMI DITABRAK” di tag kesejumlah akun, Aan Sporc Gakkum,.Ditvet Ditjen Pothan Kemhan, Ditjen Pslb Klhk, Ditjen Ppkl, Ditrppwph Planologi, Dit Reskrimsus Polda Banten, KAPOLRI, Pen Puspomad, Direktorat Penegakan Hukum Pidana, Direktorat Pepdas KLHK,” kutip indeksnews.com dari akun milik Rewad, Minggu 6 Juni 2021.

PT MKP
Foto Screenshot komentar warga netizen.

Status lain ditulis akun milik Erman Sanusi yang menyampaikan kondisi terkini lokasi bukit yang diperbincangkan warganet. “Hulu wotan cimandiri nu kiwari,”cetus status Erman.

Komentar lain, menyangkutkan dugaan salahsatu pemicu terjadinya Gempa Bumi yang terjadi pukul 12:47:42 WIB, berkekuatan M=3.0. Episenter terletak pada koordinat 6.95 LS dan 106.97 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 5 km Tenggara Kota Sukabumi, Jawa Barat, pada kedalaman 3 kilometer.

Parameter Gempa tersebut jenis dan Mekanisme Gempa Bumi, lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, Gempa Bumi yang terjadi merupakan jenis Gempa Bumi dangkal akibat aktivitas sesar Cimandiri.

Dampak Gempa Tektonik yang digambarkan oleh peta tingkat guncangan (Shakemap) BMKG dan berdasarkan laporan dari masyarakat, Gempa Bumi ini dirasakan di wilayah Sukaraja dan Sukalarang-Kab.Sukabumi dengan Skala Intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu).

Gempa susulan berkekuatan 4,8 magnitude yang mengguncang Sukabumi pada Minggu 06 Juni 2021, dini hari sekitar pukul 01.18 WIB.

PT MKP
Foto Dokumentasi Rudi Samsidi : Aktivitas proyek PT MKP Februari 2019.

BPBD Kabupaten Sukabumi ;

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, akibat kejadian gempa tersebut, sebagian rumah warga mengalami keretakan pada bagian dinding dan atap akibat getarannya. Seperti yang dialami warga masyarakat Desa Cipurut Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi.

“Ya, berdasarkan laporan tim BPBD Kabupaten Sukabumi di lapangan, Gempa Bumi Sabtu kemarin, sedikitnya ada sebagian rumah warga alami rusak ringan. Hingga saat ini belum terlaporkan kerusakan yang fatal,” ujar
Anita Mulyani Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.

Atas kejadian tersebut, Anita menghimbau agar masyarakat tetap waspada hal hal kemungkinan terjadi gempa susulan yang lebih kuat.

“Kami harap masyarakat harus tetap waspada terutama pada titik jalur rawan gempa,” tegasnya.”

Ulasan pihak organisasi setempat ;

Mengomentari sejumlah status yang viral di medsos saat ini, Asep Anwar (Ami Apek) Wakil Ketua DPD Gerakan Ormas Islam Bersatu (GOIB) Cireunghas-Gegerbitung, mengulas pada tahun 2019 lalu. Kisruh sorotoan aktivitas pembangunan perusahaan kandang ayam milik PT Male Karya Prima (MKP) di Kampung Cipetir Bongas, Desa Sukamanah, dikawatirkan sejumlah Pemerhati Lingkungan, Lembaga, Organisasi dan Tokoh Masyarakat, bakal menyebabkan dampak rusakan alam, bencana dan dangkalnya sumber mata air sesar Cimandiri, terdapat tiga desa yang diduga bakal terdampak pembangunan tersebut.

“Setau kami, aktivitas proyek kandang ayam tersebut sempat dihentikan akibat banyak sorotan penolakan keberadaan proyek itu. Selain itu, titik koordinat lokasi berdekatan dengan hutan milik RPH Perhutani. Hal wajar ketika masyarakat banyak melontarkan komentar atau kesimpulan miring kepada penegakan aturan pemerintah dalam legalitas perijinan kandang ayam berskala perusahaan besar seperti PT Male.

Apalagi, Ami Apek berpandangan, proyek kandang ayam berdiri di titik koordinat zona merah dan berada berdekatan dengan lahan milik Perhutani. Ini harus dipertanyakan sisi yang jadi acuan pemeritah, bila itu memang kabsahan legalitas sudah ditempuh.

“Perusahaan sekelas PT Male di bidang ternak ayam di Sukabumi, memiliki management yang baik seharusnya. Kalo memang terbukti menabrak aturan yang Pemeritah harus berani menindak tegas sesuai aturan berlaku tanpa pandang bulu. Jangan sampai semakin meluas dan timbul ketidak percayaan terhadap penetapan perda yang dilakukan pemerintah,” selorohnya.

Wilayah yang kemungkinan terdampak diantaranya Desa Sukamanah, Desa Gegerbitung, dan Desa Caringin. Dimana dibawah bukit Bongas terdapat perkampungan yang berdekatan, khususnya Kampung Pasir Dulang dan Kampung Bongas.

“Perkiraan jarak dari perkampungan kurang lebih satu kilometer sampai dua kilometer,” sebut Ami Apek.

Februari 2019 :

Diberitakan sebelumnya Febuari 2019, Proyek PT Male Karya Prima (MKP) di Kampung Cipetir Bongas, Desa Sukamanah, Kecamatan Gegerbitung, belum mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB) dan harus dihentikan aktivitas pembangunan oleh pemerintah daerah.

“Ya, menurut data pembangunan PT MKP masih dalam tahap cek lokasi. IMB-nya dan belum dikeluarkan,” tegas Jainul Kepala DPMPTSP Kabupaten Sukabumi, saat dikonfirmasi, Rabu 6 Februari 19.

Jainul teperangah mengetahui ada aktivitas pembangunan di lokasi. Rekomendasi yang dikeluarkan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang pada 2015 dinyatakan kedaluwarsa.

Apalagi jika lokasi pembangunannya berada di zona merah, Jainul kukuh tidak akan mengeluarkan IMB. Untuk memastikannya, DPMPTSP akan mengecek bersama Dinas Pertanahan dan Tata Ruang.***

Artikulli paraprakLedakan di Yaman Tewaskan Sedikitnya 12 Orang
Artikulli tjetërSiaran Televisi Analog Akan Dihentikan Bertahap Mulai Tahun Ini