Sindikat Mafia Tanah di Bogor Dibongkar Polisi, Warga Alami Kerugian Capai Rp 10 Miliar

Mafia tanah
Enam orang anggota sindikat mafia tanah ditangkap oleh Kepolisian Resos Bogor, pelaku kerap memalsukan data sertifikat di wilayah Kabupaten Bogor.

Salah satu anggota sindikat mafia tanah ini ternyata berstatus aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) di Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor, yang berperan sebagai pemalsu nomor sertifikat yang sudah diterbitkan.

“Kami bersama kepala kantor BPN Kabupaten Bogor mengungkap kasus tindak pidana pemalsuan dan penipuan atau penggelapan berkaitan dengan penerbitan sertifikat PTSL. Kasus ini berdasarkan adanya laporan sertifikat PTSL yang dipalsukan. Setelah dilakukan penyelidikan, bahwa ada proses yang keliru di dalam penerbitan sertifikat PTSL oleh para calo tanah yang tidak bertanggung jawab,” ujar Kapolres Bogor AKBP Iman Imanuddin, Senin (1/8).

Imam mengatakan, 6 anggota sindikat mafia tanah yang dibekuk masing-masing dengan inisial MT alias KM (30), SP alias BK (31), AR (28), AG (23), RGT (25) dan DK (49). Modus kejahatan mereka yakni merekayasa atau mengubah isi sertifikat program PTSL tahun 2017/2018 dengan menghapus data awal yang ada di sertifikat dengan cairan baycline. Kemudian diganti dengan mencetak ulang isi sertifikat dengan memasukan ke dalam akun Komputerisasi Kegiatan Pertanahan (KKP).

“Kami berkoordinasi dengan Kantor BPN Kabupaten Bogor dan saat ini Satreskrim Polres Bogor menahan dan melakukan penyidikan terhadap 6 orang yang diduga sebagai pelaku. Baik itu yang menerbitkan dokumen palsu untuk memohonkan sertifikat di BPN maupun para calo yang mengurus penerbitan sertifikat itu,” ujarnya.

Dalam kasus ini, polisi turut menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya 1 SHM nomor 7988, 25 buku tanah dan warkah yang sedang dalam proses pelaku AR, uang tunai Rp10 juta, 1 laptop merek Asus, 1 printer merek Epson, 1 botol cairan bayclin, 1 alat pengering rambut merek Miyako, 2 laptop merek Zyrez, 9 HP berbagai merek, 28 berkas bidang tanah, 2 berkas akta jual beli, 105 berkas warkah PTSL tahun 2017, 40 blanko sertifikat rusak, 15 berkas sertifikat yang berkasnya sedang dilengkapi dan 1 berkas yang sedang direvisi.

“Satu orang ASN kami tetapkan sebagai tersangka namun saat ini sedang dalam proses pemeriksaan di Satreskrim. Melakukan aksinya sejak Juli 2022,” ujar Iman.

Iman menyampaikan, aksi sindikat mafia tanah ini dilaporkan warga itu berkaitan dengan SHM (Sertifikat Hak Milik) nomor 7988 di wilayah Sukahati, Cibinong, Bogor yang bermasalah. Sebab, warga pemohon sertifikat kesulitan dan mengurusnya melalui calo dengan kompensasi Rp 25-70 juta.

Anggota sindikat mafia tanah ini ditangkap saat melakukan transaksi penyerahan uang. Dalam bulan Juli 2022 ini, lanjut Iman, para pelaku meraup uang warga hingga Rp 10 miliar.

Setelah dilakukan pengembangan, tim menangkap ASN BPN Kabupaten Bogor. Di mana pelaku berperan mencetak sertifikat lengkap dengan hasil ukur dan tanda tangan semua pejabat baik tingkat desa hingga BPN yang dipalsukan lalu mengubah data kepemilikan sesuai dengan permintaan pemohon yang baru.

“Jadk sertifikat itu asli. Yang palsu itu data dalam sertifikat. Jadi nama pemilik dan tanda tangan pejabat desa itu palsu. Pemohon ajukan di tahun 2022 namun sertifikat keluar tertera tahun 2017. Ini kejahatan,” ucapnya.

Dalam proses pemalsuan data sertifikat bisa keluar dengan nama pemohon baru lengkap dengan titik koordinatnya, dikarenakan adanya peran DK, selaku orang dalam BPN.

“Kelompok mafia tanah ini dapat mengakses situs BPN karena peran DK. Modusnya pakai sertifikat yang ada lalu hapus data awal nama pemilik dan masukin data baru pemohon,” jelas Iman

Keenam tersangka dijerat pasal 372, 378, 263 serta pasal 55 Junto 56 kitab undang-undang Hukum pidana dengan ancaman 6 tahun penjara.

 

Artikulli paraprakTagar Blokirkominfo Trending di Twitter
Artikulli tjetërGus Samsudin Guru Agama yang Dituding Lakukan Penipuan Melalui Praktek Perdukunan